Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Maret 2012

Pohon Majapahit Ternyata Ada Di Magetan



 
"Adakah teknologi canggih yang dapat melacak asal-usul pohon Majapahit ini ?"

Masih Inget Sumpah Palapa Patih Majapahit Yang Di Ajarkan Di Sekolah ?

Di beberapa lokasi di wilayah Magetan ternyata masih ada pohon Maja atau penulis sebut pohon Majapahit. Pohon Majapahit ini tumbuh dengan subur di depan rumah Jalan Samudra nomor 1 Magetan. Menurut keterangan R. Basuki, yang juga karyawan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Magetan,

Baca selengkapnya »

Jumat, 16 Maret 2012

Sejarah Penulisan Al- Qur'an

Penulisan Al Qur'an sudah dilakukan sejak zaman Rasulullah SAW masih hidup. Terdapat beberapa orang sahabat yang senantiasa mengikuti Rasulullah SAW sebagai dan berperan dalam menuliskan setiap wahyu yang disampaikan Jibril as kepada Rasulullah SAW. Salah satunya Anas Bin Malik.

Semua ayat tersebut disimpan dalam bentuk sahifah (pelepah kurma atau kulit hewan) dan tanpa urutan. Beberapa sahabat lainnya ikut menyalin dari sahifah yang sudah ditulis dari Tangan Pertama.

Pada masa Khalifah Abu Bakar ra, atas permintaan Umar Bin Khattab ra, seluruh sahifah baik dari tangan pertama ataupun yang berstatus salinan dan tercecer di seluruh pelosok Negeri dikumpulkan di satu tempat, dalam hal ini disimpan di rumah putri Umar Bin Khattab ra.

Pada masa kekhilafahan Umar ra, seluruh penghafal qur'an yang masih hidup dikumpulkan untuk mentashih (mengurutkan ayat al quran dari awal hingga akhir - didasarkan pada urutan muraja'ah (mengulang hafalan) yang dilakukan Rasulullah SAW setiap bulan Ramadhan di hadapan Jibril yang ditugaskan Allah SWT untuk melakukan pengecekan hafalan Rasulullah SAW). Kemudian dari semua sahifah yang terkumpul dipilih dan dikodifikasi menjadi satu set lengkap, disaksikan oleh semua hafidz qur'an yang terpercaya, dan sisanya dimusnahkan untuk menghindari Fitnah dan persengketaan di kemudian hari.

Pada masa Khalifah Utsman bin Affan ra, barulah penulisan ulang (didasarkan pada kumpulan dan urutan sahifah yang disimpan di rumah Zainab binti Umar - Istri Rasulullah SAW dan Putri Umar) seluruh ayat al qur'an untuk kemudian dibukukan dalam bentuk mushaf Utsmani dilakukan.

Penulisah tidak dilakukan oleh Utsman bin Affan ra, namun dilakukan kembali oleh Anas Bin Malik dan sahabat utama lainnya yang disebut sebagai komite penulisan Al Qur'an. Dibuat beberapa kopi disebarkan ke negeri-negeri Islam di seantero wilayah Islam Kekhilafahan Islamiyyah (dalam hal ini terdapat lebih dari satu Al Qur'an tertua yang ditulis pada masa yang sama). Setelah perapihan dan penusunan Mushaf selesai, seluruh Sahifah dimusnahkan dengan disaksikan oleh seluruh Hafidz Qur'an di masa tersebut. Pemusnahan dilakukan untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya fitnah di kemudian hari terkait pemilikan sahifah dan status waris yang mengikutinya

Beberapa kopi tulisan asli Qur'an awal tersebut masih tersimpan dengan rapih dan dalam kondisi sangat terawat. Diantaranya di Madinah (Museum Al Qur'an sekaligus Pusat Penerbitan Al Qur'an), Turki (Museum Kekhilafahan Islamiyyah).

Karena struktur tulisan Al Qur'an awal tersebut sangatlah sederhana, tanpa harakat/tanda baca, maka atas ijtihad ulama Tabi'in diberikan tanda baca agar metoda pembacaan menjadi seragam di seluruh pelosok dunia, sekaligus menyederhanakan metoda pembacaan menjadi hanya 7 metoda pembacaan yang sah (dikenal sebagai Qira'ah As Sab'ah)

Sehingga berita terbakarnya mushaf tulisan tangan Khalifah Utsman, diragukan keabsahannya. Namun tidak tertutup kemungkinan yang terbakar adalah Al Qur'an tulisan tangan seseorang yang bernama Utsman. Karena di seantero negeri ini (Indonesia), banyak didapati Al Qur'an tulisan tangan Ulama Lokal maupun Internasional peninggalan masa lampau (Sebagian besar disimpan dan di Rawat di Museum Mushaf Al Qur'an - TMII).

Mohon ma'af bila ada yang salah, silakan disampaikan koreksi.

Wallahua'lam.
R Noorahmat Pudyastomo

10 Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia

10. Stasiun Ijo (1880)
Stasiun Ijo (IJ) adalah stasiun kereta api yang terletak di sebelah barat Stasiun Gombong. Secara administratif, stasiun ini berada di Desa Bumiagung, Kecamatan Rowokele, Kabupaten Kebumen. Selain sebagai stasiun persilangan, fungsi lainnya adalah sebagai pengontrol terowongan jalur rel (disebut Terowongan Ijo) yang berada di sisi timur stasiun ini. Pengelolaan stasiun yang terletak pada ketinggian +25 m dpl ini berada di bawah Daerah Operasi 5 Purwokerto. Stasiun yang dibangun pada pertengahan tahun 1880-an ini jarang disinggahi oleh kereta api. Stasiun berperon sisi ini memiliki tiga jalur rel.



9. Stasiun Malang Kotalama (1879)
Stasiun Malang Kotalama (MLK) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Kecamatan Sukun, Malang. Stasiun yang berada pada ketinggian +429 m dpl ini berada di Daerah Operasi 8 Surabaya. Stasiun ini merupakan stasiun KA paling selatan yang berada di Kota Malang, dan tertua, dibangun pada tahun 1879. Penambahan nama "Kotalama" dimaksudkan untuk membedakan dengan Stasiun Malang Kotabaru yang dibangun belakangan.
Dari Stasiun Malang Kotalama terdapat percabangan rel yang menuju ke Dipo Pertamina.



8. Stasiun Surabaya Kota (1878)
Stasiun Surabaya Kota (SB) yang populer dengan nama Stasiun Semut terletak di Bongkaran, Pabean Cantikan, Surabaya. Letaknya sebelah utara Stasiun Surabaya Gubeng dan juga merupakan stasiun tujuan terakhir di kota Surabaya dari jalur kereta api selatan pulau Jawa yang menghubungkan Surabaya dengan Yogyakarta dan Bandung serta Jakarta. Stasiun lain yang juga penting di Surabaya adalah Stasiun Pasar Turi yang menghubungkan Surabaya dengan Semarang. Baru dalam masa kemerdekaan, Jawatan Kereta Api mengadakan layanan kereta api antara Jakarta dan Surabaya Pasar Turi melalui Semarang.
Berdasarkan sejarahnya, Stasiun Surabaya Kota dibangun ketika jalur kereta api Surabaya-Malang dan Pasuruan mulai dirintis sekitar tahun 1870. Tujuannya untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan dari daerah pedalaman Jatim, khususnya dari Malang, ke Pelabuhan Tanjung Perak yang juga mulai dibangun sekitar tahun itu. Gedung ini diresmikan pada tanggal 16 Mei 1878. Dengan meningkatnya penggunaan kereta api, pada tanggal 11 Nopember 1911, bangunan stasiun ini mengalami perluasan hingga ke bentuknya yang sekarang ini.



7. Stasiun Purwosari (1875)
Stasiun Purwosari (PWS) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Jl. Slamet Riyadi No. 502, Purwosari, Lawiyan, Surakarta. Stasiun yang terletak pada ketinggian +98 m dpl ini berada di Daerah Operasi 6 Yogyakarta.
Stasiun Purwosari dibangun pada tahun 1875, dan merupakan stasiun tertua di Surakarta. Pembangunannya ditangani oleh NISM. Stasiun Purwosari berada di wilayah Mangkunegaran.



6. Stasiun Solo Balapan (1873)
Stasiun Solo Balapan (kode: SLO, +93m) adalah stasiun induk di Kestalan dan Gilingan, Banjarsari, Surakarta yang menghubungkan Kota Bandung, Jakarta, Surabaya, serta Semarang. Stasiun ini didirikan oleh jaringan kereta api masa kolonial NIS pada abad ke-19 (tepatnya 1873)


5. Stasiun Kedungjati (1873)
Stasiun Kedungjati (KEJ) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Kedungjati, Kedungjati, Grobogan. Stasiun yang terletak pada ketinggian +36 m dpl ini berada di Daerah Operasi 4 Semarang. Stasiun Kedungjati diresmikan pada bulan 21 Mei 1873. Arsitektur stasiun ini serupa dengan Stasiun Willem I di Ambarawa, bahkan dulu beroperasi jalur KA dari Kedungjati ke Ambarawa, yang sudah tidak beroperasi pada tahun 1976. Pada tahun 1907, Stasiun Kedungjati yang tadinya dibangun dari kayu diubah ke bata berplester dengan peron berkonstruksi baja dengan atap dari seng setinggi 14,65 cm.



4. Stasiun Ambarawa (1873)
Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebuah stasiun kereta api yang sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah museum di Ambarawa, Jawa Tengah yang memiliki kelengkapan kereta api yang pernah berjaya pada zamannya. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata. Kereta api uap bergerigi ini sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India. Selain koleksi-koleksi unik tadi, masih dapat disaksikan berbagai macam jenis lokomotif uap dari seri B, C, D hingga jenis CC yang paling besar (CC 5029, Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik) di halaman museum.



3. Stasiun Lempuyangan (1872)
Stasiun Lempuyangan (kode: LPN, +114 m dpl) adalah stasiun kereta api yang terletak di Kota Yogyakarta, berjarak sekitar 1 km di sebelah timur dari stasiun utama di kota ini, yaitu Stasiun Yogyakarta. Stasiun yang didirikan pada tanggal 2 Maret 1872 ini melayani pemberhentian semua KA ekonomi yang melintasi Yogyakarta. Stasiun Lempuyangan beserta dengan rel yang membujur dari barat ke timur merupakan perbatasan antara Kecamatan Gondokusuman di utara dan Danurejan di selatan.



2. Stasiun Semarang Tawang (1868)
Stasiun Semarang Tawang (kode SMT) adalah stasiun induk di Tanjung Mas, Semarang Utara, Semarang yang melayani kereta api eksekutif dan bisnis. Kereta api ekonomi tidak singgah di stasiun ini. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api besar tertua di Indonesia setelah Semarang Gudang dan diresmikan pada tanggal 19 Juli 1868 untuk jalur Semarang Tawang ke Tanggung. Jalur ini menggunakan lebar 1435 mm. Pada tahun 1873 jalur ini diperpanjang hingga Stasiun Solo Balapan dan melanjut hingga Stasiun Lempuyangan di Yogyakarta.



1. Stasiun Semarang Gudang / Tambaksari (1864)
Stasiun ini dibangun pada tanggal 16 Juni 1864 yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal Baron Sloet van de Beele. Untuk pengoperasian rute ini, pemerintah Belanda menunjuk Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), salah satu markas NIS yang sekarang dikenal sebagai Gedung Lawang Sewu. Dan tepatnya pada 10 Agustus 1867 sebuah kereta meluncur untuk pertama kalinya di stasiun ini.








sumber:
forum.kompas.com